0


/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:"Table Normal";
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:"";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:"Calibri","sans-serif";
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}
Tips, atasi sulit Bergaul
Dari sekian masalah yang harus kita hadapi dalam hidup ini, kesulitan dalam bergaul adalah salah satunya.
Bagi yang kebetulan sedang menghadapi masalah ini, mungkin ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam mengatasi masalah ini:

1. pergaulan itu erat kaitannya dengan kemampuan.

Kemampuan di sini artinya bukan hasil bawaan dari lahir tetapi merupakan kapabilitas yang diraih dari usaha dalam mengembangkan diri (developmental process). Jadi, apapun kepribadian anda, pada dasarnya anda punya kesempatan yang sama untuk bergaul seperti juga orang lain yang punya model kepribadian lain
Sah-sah saja kita menyimpulkan, misalanya saja: saya orangnya termasuk Melankolis yang introvert, pemikir dan pesimis. Dia kan orangnya termasuk Sanguinis yang ekstrovert, suka ngomong dan optimis. Saya orangnya termasuk Phlegmatis yang introvert, pengamat dan pesimis. Dia kan orangnya termasuk Koleris yang ekstrovert pelaku dan optimis. Dan bla, bla, bla lainnya.
Tetapi ada satu hal yang perlu diingat bahwa dunia ini tidak peduli dengan apakah kita termasuk orang berkepribadian ini dan itu. Dunia ini hanya tahu satu hal: kalau kita mengalami kesusahan bergaul, hidup kita juga mengalami kesusahan yang tidak kita inginkan. Titik. Ini adalah sebuah dalil mengapa kita perlu mengembangkan potensi yang mendukung perbaikan kemampuan kita dalam bergaul, terlepas apapun model kepribadian kita.
Sejumlah istilah ilmiah yang bisa kita temukan dalam buku-buku kepribadian itu mestinya kita gunakan untuk melihat sisi plus-minus agar kita bisa mengembangkan diri sejati kita (bukan jadi seperti orang lain). Sebab, apapun model kepribadian kita pasti ada sisi plus yang perlu kita kembangkan untuk memperbaiki hidup dan pasti pula ada sisi minus yang perlu kita kontrol agar tidak sampai merugikan atau membahayakan.

2. Pergaulan itu tidak identik dengan banyak ngomong atau sedikit ngomong, tidak identik dengan apakah anda seorang pendiam atau tidak pendiam.

Prinsip yang berlaku dalam pergaulan adalah bagaimana kita berkomunikasi dengan orang lain (to build) dan bagaimana kita menjaga hubungan itu (to maintain). Karenanya, jangan heran bila menjumpai ada orang yang banyak ngomong tetapi pergaulannya sempit dan jangan heran pula bila melihat ada orang yang sedikit ngomong tetapi pergaulannya luas.
Sekali lagi perlu kita yakinkan pada diri sendiri bahwa bergaul adalah bagian penting dari ketrampilan hidup. Kita semua sudah tahu bahwa di dunia ini pasti tidak ada buku atau perpustakaan yang bisa mengungkap manfaat pergaulan karena saking banyaknya manfaat itu.

Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mengatasi masalah kesulitan bergaul ini, antara lain:

1. Melatih kepedulian
Kepedulian itu bentuknya bermacam-macam dari mulai yang paling ringan bisa kita lakukan sampai ke yang paling berat. Ini misalnya adalah showing interest (menunjukkan ketertarikan) pada kehidupan orang lain, bisa diajak berbicara tentang apa yang penting menurut orang lain, memberikan alasan pada orang lain bahwa Anda tidak berada di pulau yang berbeda dengan mereka, dan seterusnya. Di sini berarti Anda perlu meningkatkan wawasan yang terkait dengan beberapa topik utama di lingkungan Anda.
Meskipun showing interest itu gratis tetapi kalau untuk kepentingan mengatasi masalah kesulitan bergaul, biasanya berperan sangat penting. Untuk selanjutnya, bentuk kepedulian ini bisa Anda tingkatkan, misalnya melibatkan diri pada aktivitas bersama dengan orang lain, memainkan peranan yang bermanfaat bagi orang lain, memberi bantuan pada orang lain yang membutuhkan anda, dan seterusnya. Intinya, jangan sampai kita menyalahkan model kepribadian yang kita miliki seiring dengan serangkaian kesulitan bergaul yang kita alami sementara kita sendiri jarang menunjukkan ketertarikan pada topik atau hal yang menarik buat orang lain. Kita merasa hidup di pulau yang jauh dengan orang lain.

2. Fokuskan pada pengembangan dialog dan suasana
Seperti yang sudah kita bahas di muka, terlalu memikirkan diri sendiri dan terlalu membuat penilaian atas orang lain pada saat pembicaraan berlangsung, ini bisa mengganggu suasana. Karena itu, fokuskan pada suasana, topik pembicaraan, dan kehangatan dialog. Bagaimana caranya? Di antaranya adalah:
a) mengajukan pertanyaan yang bisa kita pelajari dengan menggunakan kaidah 5W1H (what, where, who, why, when, dan how),
b) mendengarkan dan mengungkapkan,
c) memunculkan humor atau guyonan yang mendukung dan sesuai kebutuhan.

3. Menghormati "privacy" orang lain
Ada beberapa hal tentang orang lain yang membuatnya akan lebih suka kalau kita ketahui, tetapi juga ada beberapa hal tentang orang lain yang akan membuatnya tidak nyaman kalau kita ketahui. Hal-hal tentang orang lain yang membuatnya tidak nyaman kalau kita ketahui inilah yang saya maksudkan dengan privacy. Biasanya yang kedua ini adalah masalah-masalah yang sangat pribadi.
Setiap orang itu biasanya memiliki tiga wilayah kehidupan. Pertama adalah wilayah publik (diketahui secara umum, misalnya tinggal di mana, sekolah di mana, dst), kedua, wilayah privat (diketahui hanya oleh orang yang dekat, pacarnya siapa, musuhnya siapa, dst), dan ketiga adalah wilayah pribadi (tidak ingin diketahui oleh siapapun kecuali dirinya atau suami-istrinya).
Untuk kepentingan kelancaran bergaul, akan lebih OK kalau kita memfokuskan diri untuk mengetahui hal-hal yang memang orang lain merasa nyaman untuk diketahui (wilayah publik) dan melupakan apa saja yang membuat orang lain merasa tidak nyaman bila diketahui (wilayah pribadi)

4. Lihat orang lain yang lebih berhasil
Pergaulan itu erat kaitannya dengan seni (the art) atau permainan, (playing the game) tentang bagaimana menjalin hubungan dengan orang lain. Karena seni, maka gayanya berbeda-beda dan ini tidak terkait dengan apakah anda orang yang tipenya banyak ngomong atau sedikit ngomong. Dan, dalam seni permainan, biasanya ada dua hal yang mendasar, yaitu:
a) bagaimana anda mengontrol emosi,
b) bagaimana anda mengimbangi emosi orang lain.
Dua hal ini memang agak sulit kalau dijelaskan dengan kata-kata. Akan lebih cepat bisa anda pahami dengan melihat bagaimana orang lain yang secara prestasi di atas Anda menjaga hubungan. Mereka yang telah berhasil menjaga hubungan sampai bertahun-tahun, umumnya sudah memiliki kematangan emosi yang lebih bagus. Ini bukan berarti mereka tidak pernah konflik, gap, berbeda pendapat dan lain-lain, tetapi karena mereka sudah tahu bagaimana bermain-main dengan emosi. Karena itu, ada hal-hal yang ditanggapi dengan diam, dengan bicara, dengan ketawa, dengan biasa-biasa, dengan humor, dan lain-lain.
Kalau Anda kesulitan mencari contoh, lihatlah bagaiman orang tua kita yang telah bertahun-tahun mempertahankan hubungan dalam membina keluarga. Secara umum bisa kita lihat bahwa kecanggihannya dalam memainkan emosi terletak pada kemampuannya untuk tidak "meng-ekstrim-kan" sesuatu yang berpotensi akan mengacaukan keadaan atau hubungan. Untuk mencapai kemampuan ini memang perlu latihan dan ini tidak terkait langsung dengan umur tetapi terkait dengan pengalaman hidup (life experiencing).

5. Tingkatkan prestasi Anda
Ini adalah kunci untuk mengatasi masalah-masalah kejiwaan umum itu. Semakin banyak hal-hal positif yang bisa Anda realisasikan dari diri Anda, maka semakin baguslah Anda merasakan diri anda. Bagaimana kita merasakan diri kita akan terkait dengan bagaimana kita berhadapan dengan orang lain. Karena itu, menurut teori kesehatan mental, orang yang sedang depresi (punya perasaan negatif terhadap diri sendiri, orang lain, keadaan atau Tuhan) tidak bisa membangun hubungan dengan orang lain secara positif dan konstruktif.

Sumber: harapansatria.blogspot.com/2008/04/tips-atasi-sulit-bergaul.html

Dikirim pada 16 November 2009 di ILMU dan KETERAMPILAN


/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:"Table Normal";
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:"";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:"Calibri","sans-serif";
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}
HATI2.. DOSA KECIL BSA JADI BESAR LOH..
Td pagi pas ikut KASAPA (kajian sabtu pagi) d msjd kmpsku uii-fe,
Ustadz’e ngebahas ttng dosa kecil yg bsa BERUBAH (bhs jepange:Henshin!!) jadi dosa besar.
Apakah itu?..
Dosa kecil bsa berubah jd dosa besar jika..
- Dilakukan terus menerus
Sedikit-demi sedikit,lama-lama menjadi bukit. Setiap melekukan dosa, di hati setiap mukmin akan ada seberkas titik hitam. Jika dosa terus-menerus dilakukan, lama2 titik itu bertambah dan menutupi hatinya, sehingga hati menjadi Qalbun Mayyit atau hati yg mati. Hati yang sudah mati akan sulit menerima hidayah dan petunjuk dari Alloh Subhana wa Ta’ala.

- Dianggap remeh
Ya ampun.. dosa dianggap remeh? Jgn sampe deh.
Ya Alloh.. hamba takut akan adzab dan siksa dari-Mu disebabkan dosa2 hamba.. lindungilah hamba ya Alloh... Amin..

- Senang dan Bangga melakukan dosa
Hakikatnya dosa itu sesuatu yg tersembunyi dan hnya pelaku-pelakunya dan Alloh Subhana wa Ta’Ala yg tau. Tp ternyata ada juga manusia justru menyebut2 dosa yg dia lakukan. Misal, “td ak berhasil membelai rambut si Fulanah lho. Masya Alloh..”.
Liat, udah bangga nyebutin dosa yg dia lakukan, masih pke masya Alloh pula. Naudzubillah... T-T

- Dosa dilakukan secara terang-terangan
Yang namanya maling, pasti melakukan “aksi” dosanya secara sembunyi. Klu mencurine secara terang2an, bsa jd bkn hnya disebut maling, tp “mbahnya maling”, alias merampok. Dosa yg tersembunyi klo ga dilakukan dgn sengaja, termasuk dosa kecil. Tp klu dah sengaja dan dilakukan terang2an, dosanya tentu berlipat ganda. Astagfirullahaladzim,,,

- DILAKUKAN ORANG YANG JADI PANUTAN!
Ni yg paling kutakutkan, dan semoga aku dan antum alias kita smua ga termasuk golongan ini. Da orang dengan lantang menyerukan kebenaran Islam, tapi secara sembunyi2 kita juga melakukan dosa. Akibatnya, dosa pelakunya nya SUNGGUH besar sekali. Apalagi jika perbuatan dosa itu diikuti oleh orang yg percaya padanya, amal iya, maksiat tetep jalan. Dosa orang yang lain yg melakukan akan ditimpakan ke dirinya tanpa mengurangi dosa orang lain itu. Coba klo yg ngikutin melakukan dosa 10,100, pa 1000. Bsa antum bayangkan besarnya dosa orang yang jadi panutan ini kan? T-T


Yup, ni sedikit ilmu yg kudapat d Kasapa td pagi. Biar dengerinnya sambil ngantuk2.. yg penting bsa dikit kupahami sehingga bsa kusampaikan buat antum.

Oya, da yg tau ayat2 berkaitan dgn pembahasan d atas kah?.. klu ada, tolong antum tulis d comment postingan bab ni yah..

makashi2 n jazakallah khairan dah liat d bca blogku ini.. ^-^

-1bnu-

Dikirim pada 24 Oktober 2009 di ILMU dan KETERAMPILAN



MANAJEMEN KEKAYAAN
Part B

Normal
0
false
false
false
MicrosoftInternetExplorer4
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:"Table Normal";
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:"";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:"Times New Roman";
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Normal
0
false
false
false
MicrosoftInternetExplorer4
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:"Table Normal";
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:"";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:"Times New Roman";
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}
Kekayaan
Suatu hari, Nabi Muhammad SAW ditanya oleh seorang sahabat tentang harta kekayaan. Beliau menjelaskan, “Barangsiapa menumpuk harta melebihi kebutuhannya berarti dia telah mengambil kematiannya sendiri tanpa disadari.”
Hadis Rasulullah SAW di atas mengingatkan agar kita selalu berhati-hati terhadap harta yang kita miliki. Islam memang menganjurkan kepada kita untuk memperbanyak harta kekayaan, namun dengan syarat harus digunakan untuk jalan yang benar dan baik. Misalnya untuk kesejahteraan keluarga, untuk membantu saudara-saudara kita yang kekurangan dan seterusnya.
Khalid Muhammad Khalid, dalam bukunya Ahlullah, menyebutkan bahwa Maimun bin Mahran pernah berkata, “Harta itu mempunyai tiga tuntutan. Jika seseorang selamat dari yang pertama, masih dikhawatirkan pula dari yang ketiga. Pertama, hendaknya harta itu bersih (Halal dan tidak tercampur dengan yang syubhat). Kedua, hendaknya hak Allah (zakat) dipenuhi (dikeluarkan).
Ketiga, hendaknya dibelanjakan secara wajar (tidak dihambur-hamburkan dan tidak pula kikir dalam pengeluaran).”
Dalam kehidupan sehari-hari, tak jarang kita melihat sekelompok orang berfoya-foya dan membelanjakan harta melebihi yang dibutuhkan. Mereka tidak lagi mempedulikan nasib orang-orang di sekitarnya yang serba kekurangan. Padahal jauh hari Allah sudah mengingatkan,
“Sesungguhnya harta dan anak-anaknya adalah hanyalah cobaan (bagimu) ...” (QS At Taghaabun:15),
“Hai orang orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah.” (QS Al Munaafiquun: 9), dan
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (At Takaatsur:1-2)
Dalam buku Teosofia Al-Qur’an, Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa menumpuk harta melebihi kebutuhan dapat membinasakan diri sendiri. Itu, katanya, kalau ditinjau dari tiga hal.
Pertama, menumpuk harta cenderung menyeret kita ke tebing maksiat dan kezaliman. Ujian atau cobaan dengan kemewahan jauh lebih berat ketimbang kesengsaraan. Dalam keadaan kaya, kita biasanya sulit untuk bersikap sabar.
Kedua, menumpuk harta cenderung mendorong kita untuk hidup melebihi yang kita butuhkan. Nabi SAW mengingatkan, “Cinta dunia itu pangkal segala kesalahan.”
Ketiga, menumpuk harta cenderung alpha berpikir kepada Allah. Padahal, kata Al Ghazali, mengingat Allah adalah asas kebahagiaan dunia dan akhirat.

Kemewahan hidup
Peringatan Rasulullah SAW terhadap kemewahan hidup patut jadi perhatian kita. Kendati Islam tidak melarang umatnya hidup kaya. Bahkan Islam membolehkan seseorang mencari harta sebanyak-banyaknya. Namun, Islam melarang menjadikan kemewahan itu poros kehidupan, apalagi menjadikannya sebagai tujuan hidup.
Kemudahan rezeki yang diperoleh jangan membuat lupa dan terperosok dalam gaya hidup mewah, hedonis, jauh dari kesederhanaan. Dunia memang indah namun harus disadari akhirat jauh lebih manis dan kekal abadi.
Hedonisme atau gaya hidup mewah merupakan penyakit sosial yang secara sunnatullah akan menggiring manusia ke jurang kehancuran. Gaya hidup itu seringali membuat orang malas, berpikir pendek, tak punya idealisme yang luhur dan cita-cita yang mulia, ingin enaknya saja, sehingga jelas-jelas akan bermuara pada rusaknya kualitas sumber daya manusia.
Kemewahan hidup seringkali membuat orang lalai. Pemimpin lalai akan tugas dan fungsinya sebagai pengayom kehidupan rakyat. Keadilan sebagai tugas pokok pemimpin akan jauh dari kenyataan. Hedonisme juga membuat rakyat lalai akan tugasnya melakukan amar ma’ruf nahi munkar, sebagai kontrol penerapan hukum oleh penguasa. Gaya hidup mewah juga akan melemahkan sendi-sendi kehidupan ber-bangsa lainnya. Jalan pintas akan diambil sebagai menfestasi sikap hidup mewah. Demi kemewahan hidup, orang-orang lupa nilai-nilai akhlak atau rambu-rambu moral. Adanya penipuan, perampokan, penodongan, dan penyalahgunaan kekuasaan akan subur dari orang yang memiliki mental hedonis.
Ibnu Khaldun pernah berkata bahwa kehidupan mewah akan merusak manusia. Ia menanamkan pada diri menusia berbagai macam kejelekan, kebohongan, dan perilaku hidup buruk lainnya. Nilai-nilai agung akan hilang dari mereka dan berganti dengan nilai-nilai bejat yang merupakan sinyal kehancuran dan kepunahan. (Muqaddimah Ibnu Khaldun, hlm.187)
Abu Hikmah
(Sumber : Hikmah, Republika, 2005)

Dikirim pada 16 Oktober 2009 di ILMU dan KETERAMPILAN


Normal
0
false
false
false
MicrosoftInternetExplorer4
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:"Table Normal";
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:"";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:"Times New Roman";
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}
MANAJEMEN KEKAYAAN
Part A

“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS Al-Isra’:16)
Suatu kali Rasulullah SAW ditanya oleh seorang sahabat, “Apabila kemiskinan dan kelaparan sudah merajalela dan meluas di kalangan masyarakat, siapakah orang yang paling bertanggung jawab dan juga paling berdosa?
Mendengar pertanyaan kritis itu, Rasulullah SAW pun menjawab,
“Sesungguhnya Allah SWT telah mewajibkan atas setiap hartawan Muslim, kewajiban Zakat (sedekah). Tidaklah mungkin seorang miskin kekurangan makanan dan pakaian, kecuali karena kebakhilan orang-orang kaya. Ingatlah Allah SWT akan melakukan perhitungan dengan teliti (meminta pertanggungjawaban) atas mereka, dan selanjutnya akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih.” (HR Turmuzi).
Dari hadits tersebut kita mengetahui bahwa kemiskinan dan kefakiran . bukanlah semata-mata diakibatkan oleh kemalasan dan ketidakmampuan seseorang dalam bekerja. Bukan pula oleh semata-mata kelebihan jumlah penduduk (over population) – sebagaimana anggapan sebagian orang – dan bukan pula oleh semakin menipis dan semakin langkanya sumber alam yang dimanfaatkan. Akan tetapi, penyebab utamanya adalah kebakhilan atau kekikiran yang ada pada segelintir orang kaya yang memiliki harta berlebih.
Orang-orang kaya itu, biasanya orang-orang yang dekat dan berada di sekitar pusat kekuasaan, yang mampu memanfaatkan peluang bisnis – dengan berbagai cara – bekerja sama dengan sebagian para penguasa, untuk mengeruk kekayaan negara sebanyak-banyaknya. Sementara sebagian besar rakyat, yang jauh dengan kekuasaan yang posisinya sangat lemah, tidak mampu melakukan kegiatan usaha apa pun. Mereka terombang ambing oleh situasi yang seringkali sangat tidak bersahabat dengan mereka.
Apa yang terjadi sekarang, harga-harga semakin tinggi, semakin tidak terjangkau oleh daya beli mereka, menyebabkan mereka terpuruk pada suatu keadaan yang semakin sulit dan berat. Pola kehidupan yang semacam ini, apabila tidak segera diatasi, akan memperlebar jurang pemisah antara keduanya. Apalagi jika orang-orang kaya ini memiliki sifat egois, kikir, dan hanya mementingkan diri sendiri.
Allah SWT mengancam mereka dengan ancaman yang berat. Firman-Nya: “Janganlah mengira orang-orang bakhil yang mendapatkan harta dari Allah itu baik, akan tetapi hal itu (kikir) sangat buruk, mereka kelak akan dikalungi harta (karena mereka bakhil) pada Hari Kiamat.” (QS Ali Imran: 180)
Karena itu, mengeluarkan zakat, infak, ataupun sedekah dari orang-orang yang mampu untuk mereka yang tidak mampu – selain merupakan perbuatan salah satu usaha sistematis untuk menghilangkan atau paling tidak memperkecil jurang pemisah antara golongan kaya dan golongan miskin. Lebih-lebih dalam situasi kritis seperti sekarang ini, bantuan sekecil apa pun akan bernilai mengurangi kesenjangan yang ada.

Miskin dan kaya
Masalah si miskin dan si kaya pernah menjadi perdebatan sengit di kalangan para sufi. Siapa yang lebih baik di antara keduanya? Si miskin yang sabar atau si kaya yang pandai bersyukur dan murah hati?
Sebagian sufi, seperti Harits al-Muhasibi dan Imam al-Ghazali, memberìkan keutamaan (ardhaliyah) kepada si miskin. Sedang sufi lain memberikan kautamaan justru kepada si kaya dengan merujuk pada shabat-sahabat Nabi SAW, yang hartawan, tapi dermawan, seperti Utsman Ibn Affan dan Abdul Rahman Ibn ‘Auf.
Sementara Ibn Taimiyah, pembaharu pramodern yang sangat kritis terhadap tasawuf, mengemukakan pemikiran baru dalam masalah ini. Dalam buku bertajuk Al-Shufiyyah wal-Fuqara. Ibn Taimiyah memberikan keutamaan bukan kepada si kaya atau si miskin, melainkan kepada orang yang lebih bertakwa di antara keduanya. (Kitab Al-Shufiyyah wal-Fuqara’, hal.25-26)
Menurut Ibn Taimiyah, bila kebaikan si miskin lebih banyak, maka ia lebih utama. Sebaliknya, bila kebaikan si kaya lebih banyak, maka si kaya lebih baik. Jika kebaikan mereka sama, maka kemuliaan mereka sederajat atau setingkat. Hanya, dalam kasus ini, tutur Ibn Taimiyah, si miskin lebih dahulu melangkah ke sorga daripada si kaya. Karena langkah si kaya tertahan sejenak di depan pintu sorga lantaran harus menyelesaikan perhitungan (hisab) mengenai harta dan kekayaan yang dimiliki.
Miskin dan kaya, seperti dikemukakan Ibn Taimiyah di atas, tidak menjadi dasar keutamaan seseorang. Dasar mengenal itu, tetap iman dan takwa. Di sini, miskin dan kaya hanya dapat diidentitaskan sebagai alat uji semata. Sebagai alat uji, keduanya diyakini dapat memberi pengaruh terhadap perilaku manusia, baik maupun buruk. Pengaruh ini, tentu sngat bergantung kepada kesiapan mental penerima ujian.
Untuk itu, ada manusia yang tidak siap dengan kemiskinan, sehingga kemiskinan, seperti kata Nabi SAW, dapat mendekatkan manusia kepada kekufuran. (HR. Baihaqi). Sebaliknya, banyak pula manusia yang tidak siap dengan kekayaan, sehingga kekayaan membuat dirinya menjadi pelit dan sombong. Inilah makna firman Allah: “Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.” (Al-‘Alaq:6-7).
Sebagai alat uji, kefakiran dan kekayaan itu tidak kekal., tetapi bersifat dinamis, artinya berubah dan berputar. Nabi Muhammad sendiri, pada mulanya tergolong miskin, tapi kemudan Allah membuat dirinya kaya (Ad-Dhuha:8-9). Maksud kaya di sini, menurut sebagian ahli tafsir, adalah kaya harta. Hal ini, karena perkataan ‘dibuat kaya’ (Aghna) dalam ayat ini disandingkan dengan perkataan miskin (’Aailan).
Namun, menurut Abdullah Yusuf Ali, kaya di situ lebih menunjuk pada kekayaan rohani dan spiritual. Dengan kekayaan ini, lanjut Yusuf Ali, Nabi SAW bukan saja dapat mengatasi kebutuhan-kebutuhannya yang bersifat duniawi, tetapi juga mampu memusatkan semua perhatian dan seluruh wakunya untuk bekerja dan beribadah kepada Allah SWT.
Bersambung...
(Sumber: Risalah Jum’at edisi 40/ XVIII, 13 Syawwal 1430H, 2 Oktober 2009M.
Oleh Abu Hikmah, Sumber dari Hikmah, Republika, 2005)


Dikirim pada 09 Oktober 2009 di ILMU dan KETERAMPILAN
Awal « 1 2 3 » Akhir
Profile

aku hidup di dunia ini hanya karena karunia ALLAH semata.alhamdulillah aku dilahirkan sebagai manusia,bkn hewan,menjadi muslim,bkn kafirin,dengan tubuh sempurna,tidak cacat.segala puji bagi ALLAH atas semua ini. More About me

Page
BlogRoll
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 648.273 kali


connect with ABATASA